Masih segar dalam ingatan, bagaimana dia yang sangat gendut, berkulit putih, bermata bulat, dan manis itu datang dengan ibunya. Di tempat itu pertama kali aku melihatnya, dia malu-malu dan entah mengapa, aku bersimpati. Waktu itu aku baru berumur sekitar 9 tahun. Waktu berlalu, singkatnya aku berkenalan dan dia menjadi salah satu temanku. Dan disini (baca: hati) aku masih tetap bersimpati sampai akhirnya kita beranjak dewasa dan kami berkuliah di Universitas yang sama. Karena kami bersekolah di kota yang berbeda, aku sudah samar-samar mengenai bagaimana dirinya sekarang. Dan saat kita bertemu, dia sudah tumbuh dewasa. Dia tampan, tinggi, dan tidak gendut lagi. Tak pernah menyangka, tapi takdir yang digariskan Tuhan memang indah, anak lelaki kecil yang aku sukai sejak masih sekolah dasar itu, akhirnya menjadi Cinta Pertamaku. Dia menjadi kekasihku. Romansa yang kami jalani sangat indah, meski kami berdua bisa dibilang masih 'remaja tanggung' saat itu. Semester 1 dibangku kuliah adalah semester paling indah, yang mengubah banyak hal dariku. Lelaki yang aku sukai dari saat kecil, ternyata bukan lelaki yang salah untuk disukai dalam jangka waktu yang sangat lama.He worth to be loved deeply. Dia begitu istimewa. Aku, aku yang semasa SMA sangat kuper, culun, dan kutu buku, dirubahnya menjadi seorang gadis yang optimis, percaya diri, dan periang. Dia tidak menyuruhku merubah penampilanku, dia hanya selalu mencintaiku dengan tulus, seperti apa adanya diriku, dan karena itu aku berubah. Dia seperti hadiah yang diberikan Tuhan. Bagaimana tidak, bukan hanya tampan tapi dia juga sangat baik dan SETIA !!! Setia, menemukan lelaki setia itu sangat susah. aku tahu, karena itulah aku sangat bersyukur memilikinya, meski tidak bisa dipungkiri, banyak wanita yang mencoba mendekatinya tapi dia selalu mengatakan "i am the only one" pada wanita-wanita itu. Tapi takdir Tuhan juga menggariskan hal lain, kami PUTUS !!! hubungan kami berakhir di bukan ke-10. Saat itu penyebabnya hanyalah masalah sepele. Masalah pesan singkat yang nyasar keponsel dia, yang menyulut pikiran negatifnya, dan terus-menerus menjadi alasan pertekaran kami. Saat itu, aku masih sangat kekank-kanakan, begitu juga dengannya. Gengsi masih sangat dijunjung tinggi, yang membuat aku bersikeras untuk berpisah. Berpisah darinya merupakan keputusanku. Aku sungguh-sungguh ingin mempertahankan "kami" saat itu, tapi satu hal yang diapun bahkan tidak pernah tahu, aku.. aku melakukan itu untuknya. Aku yang masih sangat bodoh, dan lugu berpikir bahwa saat kami sering bertengkar, dia sudah tidak bahagia lagi bersamaku, dan dia harus berbahagia. Aku berpikir, jika aku melepasnya, dia mungkin akan berbahagia dan yang terpenting mendapatkan yang lebih pantas untuknya. And i did it. Sangat sulit. tidak ada kata yang bisa menggambarkan bagaiman hancurnya hatiku saat itu. Setelah aku memberanikan diri untuk memutuskan hubungan dengannya, aku teru-menerus berpikir akan hal itu. Apakah aku melakukan hal yang benar ? Apa aku bisa tanpa dia ? Apa aku tetap akan se riang ini tanpa dia ? dan yaa, aku bisa tanpa dia. aku tetap riang dan ceria tanpa dia. dan sekarang, dia juga sedang berbahagia dengan wanitanya. :D Wanita cantik dan baik, yang mnurutku pantas untukya. Aku juga telah bersama seseorang yang sangat aku sayangi. Akhirnya, Kami berbahagia walaupun telah berjalan sendiri-sendiri. Tapi kami tetap bersahabat, seperti sebelum kami berpacaran. Dia masih sosok yang baik dan tidak sombong yang aku kenal. Dia memang pantas berbahagia. Doaku selalu untukmu, cinta pertamakuu....
For you, my past.
What i've got today, wouldn't be real if u didn't teach me how to believe in my own self.
I don't know how to thanks, but u have made my days..
I would pray for your happiness as always. and i did.
Many poems are for you, many tweets are about you, just for remember how u were so special. But now, i move to another heart. U always have a place here, i'll love the someone new, like u did to me. Love honestly !!! :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar